
Jum’at, 14 Agustus 2009 M, waktuku di dunia berkurang lagi. Bertepatan dengan hari ujianku yang telah banyak menguras waktu, tenaga dan pikiranku selama beberapa bulan terakhir. Selayaknya sebagai seorang hamba Allah, aku mengucap syukur atas tambahan usia yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Merenung ? tidak juga….karena aku sadar bahwa perenungan atau interospeksi diri, tak hanya dilakukan pada setiap tahunnya atau bertepatan dengan momen tertentu seperti pertambahan usia, tahun baru dan lain sebagainya…tetapi, setiap desahan nafas kita, setiap detik yang kita miliki harus kita manfaatkan untuk mengingat apakah yang telah kita lakukan telah mendapat keridaannya atau justru hanya membawa kemudharatan. Maka selayaknya, kita memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla.
Saya teringat penggalan puisi dari seseorang yang saya baca di blognya :
BATAS HIDUP DAN MATI
batas hidup dan mati itu sangat tipis .......
di manakah kita : saat ajal datang menjemput
sedang apakah kita : saat malaikat Izrail datang memanggil
ke manakah kita : setelah dunia ini merampas kebahagiaan kita
ke manakah kita : saat jasad mulai rapuh digerus binatang tanah
surga atau neraka?
keimanan kita yang akan menolong
amal kita yang akan membantu
iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
beramal shaleh atas petunjukNya
batas hidup dan mati itu sangat tipis : memang begitu adanya
Juga kutipan dari catatan seorang hamba Allah Subhanahu WaTa’ala di blog sebelah yang saya lewati :
Allah SWT berfirman; “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati….” (QS. Al-Imran :185) Perjalanan ini adalah menuju akhirat. Suatu perjalanan yang kita mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar berakhir pada kenikmatan surga. Bukan neraka. Karena keagungan perjalanan menuju hari akhir inilah Rasulullah bersabda: “Seandainya kalian mengetahui apa yang kuketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (Mutaffaqun ‘alaih).
Jika kita mengetahui hakekat ajal yang akan menjemput kita dan kedahsyatan alam kubur, kegelapan hari kiamat dan segala kesedihannya, shirot (titian) dan segala rintangannya, surga dengan segala kenikmatannya, niscaya akan memberikan motivasi kepada kita untuk mengadakan perubahan.
Berubah dari kefasikan dan kekafiran menjadi keimanan, dari kemunafikan menjadi istiqamah, dari keraguan menjadi keyakinan, dari kesombongan menjadi ketawadhu’an, dari rakus menjadi rasa syukur dan sederhana, dari pemarah dan pendendam menjadi kasih sayang dan memaafkan, dari kelicikan dan kesewenangan menjadi kejujuran dan keadilan, dari kedustaan menjadi kebenaran.
Akupun sadar bahwa aku sering terlupa atau bahkan mungkin berpura-pura lupa dengan perjalanan panjang tersebut, begitu banyak kelalaianku, begitu juga dengan pagi ini bahkan malah sering memilih dunia dengan segala perangkatnya, kemewahan, kecantikan, kekayaan, kedudukan yang semua nilainya disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak lebih dari sehelai sayap nyamuk!
Tipuan dunia ......
Aku pun tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu membuka pintu taubatnya lebar-lebar, karena rahmat dan maghfirah Allah Subhanahu wa Ta’ala sangatlah luas, lebih luas dari lautan dosa. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan hatinya.” Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam menyampaikan satu nasehat untuk setiap manusia: “Cukuplah dengan adanya kematian sebagai penasehat (bagi kita).”
Ya Allah ya Rabbi ....
Aku ingin berhias dengan amal shaleh dan keindahan akhlaqul karimah, karena aku sadar bahwa semua hamba akan mempertanggungjawabkan amalannya sendiri-sendiri.
“Maka barangsiapa beramal seberat biji sawi dari kebaikan, niscaya akan melihat ganjarannya. Dan barangsiapa beramal seberat biji sawi dari kemaksiatan, niscaya akan melihat siksanya.” (Q.S. Az-Zalzalah: 7-8) Wallahu a’lam.
Aku pun teringat tentang keimananku dan berapa besar amal shaleh yang telah kulakukan selama Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikanku kehidupan ini... MASIH TERAMAT JAUH .... mungkin banyak yang terluka karena secara sengaja ataupun tidak sengaja lisan dan gerak-gerik ini telah menggores hati-hati mereka…apalagi kepada kedua orang tua hamba…entah berapa banyak perkataan ah…yang telah kuucapkan….
Ya Allah.. Mataku basah karenanya…
Betapa diri ini masih jauh dari amalan yang digariskan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hambaNya.
Betapa diri ini masih lebih mencintai DUNIA daripada AKHIRAT
Ya Allah ya rabbi ....
Segala puji bagiMu atas semua nikmat yang telah engkau limpahkan kepadaku.
Terima kasih atas semua hal yang engkau perlihatkan sebagai pengingat dan renungan amalku setiap saat ...
Terima kasih atas semua keluarga, teman dan sahabat yang engkau berikan sebagai keluarga, teman dan sahabat di jalanMu ...
Sesunggunya diri ini masih berlumur dosa dan kesalahan, sesungguhnya diri ini masih jauh dari KeinginanMu .... Berikan hambaMu kekuatan dan keimanan untuk lebih dekat kepadaMu selama merasakan semua nikmatMu di dunia ini. Insya Allah .. Aamiinn ....
Dari sudut kecil kamarku,
Wassalam ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar